Perempatan Jalan

09:48 HB Seven 22 Comments

Meskipun hanya sebuah perempatan, namun menyimpan segudang persoalan yang membuat dilematis bagi setiap orang kala sedang berhenti di sebuah perempatan jalan. Adakalanya hati terketuk untuk berbuat baik kepada orang lain, namun disatu sisi timbul pertanyaan apakah memang benar apa yang dilakukan itu suatu perbuatan yang benar. Sebuah dilema ketika menjumpai pengemis di sebuah perempatan jalan. Dengan hanya bermodalkan tutup botol yang dipaku pada sebilah kayu ataupun berbekal sebuah gelas plastik mereka beraksi dengan santai.  Tak hanya berbekalkan tutup botol dan gelas plastik, kadang mereka beraksi dengan menggendong anak kecil sebagai alat pekerjaan mereka, entah itu anak mereka punya kandung ataukah hanya sekedar sewa dari persewaan anak *miris* agar rasa empati dan simpati para pengendara terketuk.Tanpa pernah memperdulikan teriknya sang mentari, mereka beraksi mencari sekeping rupiah.

Pakaian lusuh, tampang memelas, kucel, namun body seger... atletis..bahkan gemuk menyehatkan, hanya menjadi seorang peminta-minta. Mungkin ketika ditanya kenapa menjadi seorang peminta-minta, mereka pasti menjawab tidak ada lowongan pekerjaan yang cocok bagi mereka. Kalau alasan itu yang digunakan sebagai alasan pembenar untuk menjadi peminta-minta, hanya sebuah alasan klise. Kenapa klise karena masih banyak orang-orang yang bisa bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun pekerjaan itu sungguh berat untuk dilakukan. Misalnya ada yang menjadi pembantu rumah tangga, menjadi buruh tani, laden tukang dan lain-lain. Namun ada juga yang menjawab dengan jawaban yang pasti dan jelas yaitu enak mas..tinggal icrik..icrik..dapat duit... "ringan dan mudah" 

Perempatan Jalan. Ada cerita mungkin nantinya bisa mengubah paradigma tentang mereka yang beraktifitas di perempatan jalan.
  • Pernah saat istri dan Sang Fajar pulang dari rumah sakit dengan naik taksi. Dalam perjalanan menuju kerumah sopir taksi menceritakan bahwa dirinya pernah mengantarkan seorang penumpang yang notabene adalah peminta-minta. "Hebat yach..bisa naik taksi". Betapa kagetnya sopir taksi tersebut begitu sampai dirumah orang itu, karena takjub bin heran ternyata rumah dan isi perabotannya komplit. Ada kulkas, TV, sepeda motor boleh dikatakan sangat mapan. Dalam hati mungkin sopir taksi itu berkata "ealaaah..saya saja bekerja siang malam belum bisa seperti itu, lha ini yang hanya sekedar meminta-minta rumahnya bagus betul"
  • Pada suatu pagi saat dikantor saya berbincang dengan wakil pimpinan sambil menikmati teh hangat di pantry. Beliau pernah mendapatkan cerita dari kawan beliau, bahwa kawan beliau tersebut pernah melihat tetangganya sedang meminta-minta di perempatan jalan. Melihat hal tersebut kawan beliau ini juga kaget karena rumah tetangganya tersebut juga tergolong rumah yang megah. 
  • Pernah saya sendiri mengalami suatu peristiwa terkait dengan para peminta-minta tersebut. Saat saya terhenti di pertigaan jalan Solo tepatnya utara Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, ada seorang pengemis perempuan sedang marah marah dengan bahasa yang cukup kasar. "Pabu Sacilad, bandha ora digawa modyar we.. pelit (Terjemahan lihat dibawah). Penyebabnya secara pasti saya kurang tahu karena pas terhenti, pas kata-kata itu terdengar. Mungkin karena ada salah seorang pengendara yang tidak berkenan memberi kepada pengemis tersebut..sehingga pengemis itu marah-marah dengan membumbung tinggi.
Itu sedikit cerita tentang beberapa hal terkait dengan para aktifis di perempatan jalan. Meskipun cerita diatas tidak bisa untuk menggeneralisis akan para aktifis di perempatan jalan. Kembali semua itu kepada kawan-kawan semua saat menghadapi para aktifis di perempatan jalan, apakah ada rasa iba dan empati sehingga berkenan memberikan sedikit dana untuk mereka atau berlaku seperti seolah tidak ada. Namun sesuatu hal yang membikin trenyuh hati para pengendara kala terhenti di perempatan jalan adalah kala mereka mengeksploitasi anak-anak mereka untuk kegiatan mereka tersebut. Seharusnya mereka bermain dengan riang dalam dunia mereka yang begitu indah dan penuh keriangan namun  harus terhilangkan dunia itu dari alam mereka karena ego orang tua mereka.

Alih Bahasa
Pabu Sacilad lihat di Basa Walikan
Bandha ora digawa modyar we..pelit : Harta tidak dibawa mati saja pelit


Sedang memuat atikel terkait...

You Might Also Like

22 comments:

  1. wah.. ya mungkin nggak jauh beda dengan tukang parkir kali ya... hanya kalo tukang parkir mungkin cukongnya nggak keliatan :D

    ReplyDelete
  2. memang hal hal seperti itu menjadi suatu dilema, semoga Tuhan memberikan mereka jalan hidup yang baik

    ReplyDelete
  3. dilematis juga kang mas -hehe-
    hidup adalah sebuah pilihan
    orang yang duduk di atas sana yang paling ane salahkan
    karena perilaku mereka sedikit banyak juga akibat dari imbas ekonomi
    met aktifitas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul..om.. hidup memang pilihan..namun bisa jadi benar adanya..karena.. merekalah yang duduk diatas singgasana.. yang lupa..

      Delete
  4. tapi jangan pingin jadi kayak mereka lho ya? :D
    bagaimanapun memberi lebih baik daripada meminta-minta

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups... lebih baik tangan diatas daripada dibawah....

      Delete
  5. iya tuh mereka terlalu, mengemis padahal mereka mampu bekerja :(

    ReplyDelete
  6. lha ini namanya pemalas. hehee...gak mau kerja jadinya ya minta2 aja. susah susah kalo dah malas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul..memang kalo itu memang udah sifat... ya...susah..

      Delete
  7. udah ga aneh om
    di daerah brebes sampe ada kampung pengemis
    rumahnya keren keren dan sebagian besar warganya jadi pengemis ke kota

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata..oh..ternyata... itu merupakan profesi yang menggiurkan...

      Delete
  8. Followsukses, ditunggu follow backnya

    ReplyDelete
  9. saya ga mahir berhadapan di persimpangan. gampang bingung

    ReplyDelete
    Replies
    1. terutama dipersimpangan hati ya om..he.he.he..

      Delete
  10. jadi perempatan ntu strategis mungkin yak bagi para katifis. ..

    ReplyDelete
  11. Tragis emang, banyak tuh orang2 yang udah mapan tapi kerjaannya jadi pengemis di perempatan jalan.
    Gak malu apa ya? -___-"

    ReplyDelete
  12. mas, saya mencoba berkomitmen diri sendiri untuk tidak memberi peminta minda dan pengamen. tidak mudah memang. tetapi semakin memberi menurut saya kita memberikan masalah sosial baru bagi lingkungan :)

    imho

    ReplyDelete

Matur nuwun komentaripun....