Larangan Menggunakan Kalimat Kiasan

12:44 HB Seven 44 Comments

Larangan menggunakan kalimat kiasan khususnya dalam bahasa Jawa sering kita jumpai terutama ketika kita masih kecil. Kalimat kiasan ini biasanya dilontarkan untuk menimbulkan rasa takut si anak agar anak tersebut tidak melakukan perbuatan yang dirasa melanggar etika kesopanan. Dalam bahasa ada beberapa tingkatan bahasa, yaitu bahasa kasar, ngoko, krama, krama inggil. Demikian pula halnya ada beberapa anggota tubuh yang memang mempunyai kedudukan yang berbeda sehingga penghormatannya pun berbeda pula. Misalnya, orang Jawa sangat meninggikan kedudukan akan kepala, sehingga apabila ada yang memegang kepala pasti orang yang mempunyai kepala itu akan marah. Selain anggota tubuh, maka perilaku juga menjadi acuan untuk menilai layak atau tidaknya perilaku seseorang apabila dilakukan. Sehingga untuk mencegah hal tersebut para leluhur mengkreasi suatu kalimat kiasan untuk melarang atau menakuti terhadap anak kecil tetapi dengan cara yang lebih halus agar anak tidak mengulangi perbuatan yang dirasa kurang sopan atau tidak etis, serta membahayakan.

Larangan menggunakan kalimat kiasan misalnya, bijinya jangan dimakan nanti bisa tumbuh di kepala, intinya adalah bahwa jangan sampai biji yang tertelan bisa menyebabkan anak tersedak atau dalam BAB mengalami kesulitan, yang  pasti dengan pola seperti itu maka anak akan takut untuk menelan biji buah-buahan karena ada kekhawatiran bisa tumbuh pohon di kepala, sehingga secara otomatis.. aman.  jangan duduk dibantal karena nanti pantatnya bisa bisulan, secara logika bisa bisulan darimana cuma menduduki bantal saja bisa bisulan, tapi setelah kita dewasa akan tahu bahwa maksud kalima itu adalah bantal adalah tempat kepala kala tidur, maka tidak etis pantat duduk di bantal,  jangan makan di depan pintu tidak baik dilihat orang, inti dari kalimat ini adalah agar kita tidak mengganggu orang yang keluar masuk lewat pintu tersebut. 

Dengan demikian bahwa ada beberapa hal yang dilarang tanpa harus menggunakan kalimat kasar atau keras untuk melarangnya. Sehingga tidak terdengar ada kekerasan dalam rumah tangga terutama kekerasan terhadap anak. Namun apakah kalimat-kalimat kiasan itu saat ini masih bisa berlaku dan mempan terhadap anak-anak sekarang, dimana anak-anak sekarang sangat kritis dan daya nalar mereka saat ini jelas lebih rasional dari anak-anak dahulu.

Nb. Kayaknya ora nyambung nih..antar paragraf..wkkw..kkw.....


Sedang memuat atikel terkait...

You Might Also Like

44 comments:

  1. Apa itu yang disebut Sanepo, ya, Mas?

    ReplyDelete
  2. Xixixi... bayak sekali waktu kecil larangan yang bentuknya kalimat kiasan, tapi kalo sekarang gak tau juga, masih mempan gak sob hahahha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak tahu..om..bocah..sekarang..jan kritis..sekali..je..

      Delete
  3. Hehehe untuk saat ini sepertinya sudah ga berlaku, kalo ga rasional si anak bakal bertanya terus maksudnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..mbak bisa jadi seperti itu..he.he.h. tapi ndak ada salahnya kita coba..

      Delete
  4. Leluhur dulu tatanan pendidikan dalam keluarga khususnya begitu terkonsep, hal-hal sekecil nduduki bantal doang pun tak luput dari jangkauan.

    Bila kalimat kiasan tsb diterapkan untuk jaman sekarang rasanya sah-sah saja, karena etika tata krama tadi pun sesuai dengan adab2 dalam agama (saya), dan tentu pasti relevan uptodate sampai kapanpun.

    #Moga komentnya antar paragrap nyambung neh Mas. :D

    NB: Yang pertanyaan di aliafif udah dijawab belum ya mas, alnya kemarin dah koment, tapi nda tw masuk apa nda. he

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul..mas.. pendidikan para leluhur..tersusun secara sistematis.. alias..ada alurnya..

      belum ada tuch..mas...dari mas..al..

      Delete
  5. Itulah bahasa jawa mas, banyak kiasan dan banyak makna yang terkandung. Saya sendiri juga sempat berpikir begitu dan banyak bertentangan dengan orang tua saat di kasi kiasan begitu. Namun seiring bertambahnya waktu, jadi mikir sendiri dan saya sendiri berusaha tidak menularkan kiasan2 itu pada anak2ku. ya ngasih tahu yang sebenarnya saja. ;)


    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu kembali kepada kita mas.. karena anak-anak saat ini sangat kritis...

      Delete
  6. #OOT*
    Wah brati kemaren pas ngehang neh Mas Hape saya.

    Diwakili Cerita Dewasa saja ya njawabnya. Haha.

    Jadi setahu saya sih cara ada yang mengetahui yang ngopas artikel kita bisa dengan cara:
    1. Buat akun di copyscape. Ini semacam situs pelacak yang ngopas, cuman kita perlu pasang script yang didapaet dari situ yang kudu dipasang/ditanamkan di blog kita. Kayaknya biasanya dipasang di sidebar ya.
    2. Katanya cukup dengan mengcopy awal paragraf pertama tulisan kita, yang dipastekan di kotak pencarian google. Search. Dan bila ada yang sama persis tentu blog itu adalah copaser.
    3. Ini pengalaman saya saja, yang terkadang coba-coba mengetikkan judul unik yang pernah saya posting, untuk mengecek sejauh mana dapat bertahan di serp. Nah biasanya ada yang muncul tapi bukan blog kita, terkonanglah kalau ada yang mengcopas.

    Kayaknya sepengetahuan saya cuma begitu Mas.
    Ngapunten. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap mas.... thanks pencerahanipun...

      Delete
  7. iya, waktu kecil nggak boleh tidur malem2 nanti dimakan hantu. Lah hantu kan doyannya kembang, gak doyan anak kecil. apalagi anak kecil buandel kayak saya.. disepah langsung hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. he.he.he.. iya..ya..tik..masak..hantu..makan hantu..wk..wkk..

      Delete
  8. Tatakrama Jawa sepertinya mirip dengan madura ya mas. biarpun tidak nyambung yang penting dapat dipahami dong

    Salam Dari Pamekasan madura

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..om.. semoga dapat dipahami..nggih.hehe.h.

      Delete
  9. Wah iya dulu waktu kecil suka ditakut-takutin kalo nelen biji buah, bijinya bisa tumbuh.. Pas enggak sengaja nelen jadi takut tapi ternyata enggak tumbuh-tumbuh he he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkk..wkk...sempat penasaran juga tho mas..h.ehe..

      Delete
  10. ketika jatuh, malah dibilang kodoknya udah lari jadi jangan nangis.. ini merupakan kiasan juga ngak mas hehe :)

    ReplyDelete
  11. ya wkt kecil saya pernah ketakutan setiap kali makan buah ketelen bijinya. terutama buah duku, takut tumbuh duku di kepala. hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. sempat nggak bisa tidur ya mbak..he.he..

      Delete
  12. orang orang tua jaman dulu umumnya berlindung dibalik "ora ilok" ehhehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul ..mas.. namun intinya itu demi kebaikan...

      Delete
  13. hahah, anak-anak zaman sekarang udah nggak mempan dikasih ginian :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang pasti anak sekarang lebih kritis.... daripada anan dulu....ya om..

      Delete
  14. itu bahasa turun temurun mas, tp sampe sekarang lah saya ttp percaya kalo biji dimakan bakal tumbuh di kepala hahahaha

    ReplyDelete
  15. yapi ... anak kecil terkadang daya rekamnya kuat,... inspiratif

    salam bahagia

    ReplyDelete
  16. Aku inget dulu waktu masih kecil banget, Ibuku sering bilang jangan makan sambil tiduran nanti jadi buaya *nha lho sama klo makan diabisin biar nasinya gak nangis hahhaa... :) terbukti kiasan2 itu emank lebih mudah diterima anak2 :)

    ReplyDelete
  17. Bagus infonya buat calon-calon ibu nih, hehe..
    eh gak cuman ibu sih, ayah juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. monggo...kalau mau dipraktekkan...

      Delete
  18. kata saw imah diambil sisi positifnya saja deh, kalau masih efektif dan mengena untuk pendidikan budipekerti ya dipakai kalau tidak ya tidak perlu digunakan, begitu kan mas

    ReplyDelete
  19. wkwkwk jadi inget waktu kecil kalo sore2 masih main di katain tar di tangkap sanekala loh (bahasa sunda) tapi jaman sekarang mah gak mempan

    ReplyDelete
  20. Hehehe, terlalu banyak hal-hal aneh dan gak benar yg dicekokin ke anak kecil. korbannya saya neeeh, rasa takut kadang gede bgt :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. masak sih...sampai sekarang masih takut....

      Delete
  21. Wah, wah.. Saya bukan orang Jawa sob. Jadi di Kampung saya masih jarang orang yang menggunakan kalimat Kiasan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya om.. beda..daerah beda adat.. he.hehe..

      Delete
  22. ora ilok, begitu biasane ibuku ngomongi aku yen ngelakoni lelaku sing dianggep ora apik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi..om.. itulah..orang tua kita..memakai bahasa kiasan.

      Delete
  23. orang tua suka berlebihan dalam mengajari anaknya, secara tak langsung mereka mengajari berbohong

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya juga sih.. namun..kalau berbohong demi kebaikan gimana om..he.he.e..

      Delete
  24. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Tuhan lebih tau segala hal daripada kita.,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    ReplyDelete

Matur nuwun komentaripun....